
Berpikir Objektif: Melihat dengan Mata Hati yang Jernih
Dalam keseharian, kita sering kali melihat dunia bukan sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana perasaan kita saat itu. Saat marah, saran terbaik pun terdengar seperti serangan. Saat terlalu senang, risiko yang nyata bisa terlihat seperti peluang tanpa cela.
Berpikir objektif bukanlah tentang menjadi robot yang dingin tanpa emosi. Sebaliknya, ini adalah tentang menjadi nakhoda yang bijaksana di tengah badai perasaan.
1. Melepaskan Kacamata Kuda
Objektivitas dimulai ketika kita berani mengakui bahwa sudut pandang kita hanyalah satu dari sekian banyak. Seringkali kita terjebak dalam confirmation bias—hanya mencari informasi yang mendukung apa yang sudah kita percayai.Read More
