Di dunia yang bergerak serba instan ini, kita sering kali merasa tertinggal. Melihat pencapaian orang lain di media sosial membuat kita merasa bahwa sukses harus diraih di usia muda, dalam waktu singkat, dan tanpa jeda. Namun, kenyataannya, hidup bukanlah perlombaan lari cepat (sprint), melainkan sebuah maraton.
1. Ilusi Kecepatan
Banyak orang mendaki dengan cepat namun jatuh dengan cepat pula karena mereka tidak membangun fondasi yang kuat. Kecepatan sering kali mengabaikan proses, padahal di dalam proses itulah karakter kita dibentuk. Jangan merasa gagal hanya karena langkahmu lebih lambat dari orang lain. Tujuanmu bukan untuk menjadi yang pertama, tetapi untuk sampai ke garis finis dengan integritas yang utuh.
2. Belajar dari Pohon Bambu Cina
Pohon bambu Cina tidak menunjukkan pertumbuhan sedikit pun selama lima tahun pertama. Namun, selama masa itu, ia sedang menumbuhkan akar yang sangat dalam dan kuat di bawah tanah. Setelah lima tahun, barulah ia tumbuh menjulang hingga puluhan meter hanya dalam hitungan minggu.
Pelajaran: Apa yang tidak terlihat oleh orang lain (usahamu, doamu, air matamu) adalah “akar” yang akan menopang kesuksesanmu di masa depan. Tanpa akar yang kuat, kesuksesan setinggi apa pun akan mudah tumbang.
3. Kekuatan untuk Bertahan (Endurance)
Dunia menghargai hasil, tetapi Tuhan dan semesta menghargai ketekunan. Bertahan di tengah badai, tetap konsisten saat bosan, dan bangkit kembali setelah gagal adalah definisi sukses yang sesungguhnya.
-
Kecepatan mungkin membawamu ke puncak.
-
Ketahanan adalah apa yang membuatmu tetap berada di sana.
Kesimpulan
Jangan membandingkan “musim menanam” Anda dengan “musim panen” orang lain. Setiap bunga mekar pada waktunya sendiri. Jika hari ini Anda merasa lelah karena hasil yang belum terlihat, ingatlah bahwa selama Anda tidak berhenti, Anda tidak sedang gagal. Anda sedang bertumbuh.
Teruslah melangkah, meski perlahan. Karena pada akhirnya, pemenangnya bukan yang paling cepat memulai, tapi yang paling setia bertahan sampai akhir.
Penulis: Gemini 3